JAKARTA – Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Rano Alfath, memberikan apresiasi atas langkah cepat dan cermat Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam menangani dan mengungkap insiden ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta. Rano menekankan bahwa respons sigap Polri sangat penting untuk mencegah beredarnya informasi simpang siur di tengah masyarakat.
“Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada Polri yang bergerak cepat cermat menangani insiden ledakan di SMAN 72 di Jakarta ini. Langkah cepat dalam mengamankan lokasi, mengumpulkan bukti, dan mengidentifikasi terduga pelaku menunjukkan bahwa sistem respons kita berjalan dengan baik,” kata Rano kepada wartawan, Kamis (13/11/2025).
Menurut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut, respons yang cepat ini krusial agar publik tetap tenang dan informasi yang beredar tidak menimbulkan keresahan.
Minta Usut Tuntas Motif Pelaku
Terkait penetapan seorang siswa sebagai terduga pelaku, Rano menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada penyidikan kepolisian. Namun, ia menekankan perlunya pengusutan tuntas terhadap motif, latar belakang, dan sumber pengetahuan serta bahan peledak yang diperoleh pelaku.
“Yang jauh lebih penting adalah mengusut tuntas motif, latar belakang, dan dari mana pengetahuan maupun bahan peledak itu diperoleh. Jadi kita lihat juga itu ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’-nya,” ujarnya.
Rano berharap hasil penyelidikan yang komprehensif tersebut dapat dijadikan dasar untuk menyusun langkah pencegahan yang lebih mendalam di masa mendatang.
Pentingnya Mitigasi dan Edukasi di Sekolah
Lebih lanjut, Rano menyoroti fakta bahwa terduga pelaku disinyalir merakit sendiri bom yang digunakan. Ia mendorong agar mitigasi dan edukasi, terutama di lingkungan sekolah, harus diperkuat.
“Kami di Komisi III juga mengingatkan bahwa di era sekarang, akses informasi teknis termasuk soal perakitan bahan berbahaya bisa ditemukan dengan relatif mudah. Itu sebabnya mitigasi dan edukasi menjadi penting, terutama di lingkungan sekolah,” jelas Rano.
Ia juga menutup dengan pesan agar semua pihak—guru, orang tua, aparat, dan pemerintah—memperkuat deteksi dini untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak dan mencegah kejadian serupa terulang.


