GANTARITV.COM BEKASI – Stadion Mini H. Natrom Nursyamsu, Mustikajaya, mendadak berubah menjadi lautan manusia pada Minggu (19/4/2026). Ribuan warga Kota Bekasi memadati area tersebut untuk menyaksikan gelaran ikonik tahunan, Festival Adu Bedug dan Dondang ke-19. Tradisi yang telah eksis sejak tahun 2007 ini terbukti masih menjadi magnet kuat sekaligus ruang ekspresi budaya yang bertahan di tengah gempuran arus digitalisasi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, yang hadir langsung di lokasi, memberikan apresiasi tinggi terhadap antusiasme masyarakat. Menurutnya, festival ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata konsistensi warga dalam menjaga warisan leluhur. “Keikutsertaan warga menjadi kunci. Mereka mempersiapkan diri hampir satu tahun untuk menampilkan kreativitas terbaik,” ujar Tri saat meninjau arak-arakan dondang.

Kemeriahan tahun ini terasa berbeda dengan beragamnya tema yang diusung dalam pawai dondang. Selain menampilkan simbol budaya Betawi klasik dan hasil bumi, beberapa peserta juga menyelipkan unsur modern seperti teknologi dan robotik. Meski mulai bersentuhan dengan elemen kekinian, identitas kearifan lokal tetap kental terasa dan menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.
Camat Mustikajaya, Maka Nachrowi, menjelaskan bahwa festival ini merupakan momentum penting bagi warga untuk bersilaturahmi atau halal bihalal usai merayakan Idulfitri. Persiapan matang pun telah dilakukan jauh sebelum memasuki bulan Ramadan. “Ini bukan sekadar hiburan, tapi bagian dari upaya menjaga tradisi agar tidak hilang di generasi mendatang,” tegasnya.
Tak hanya soal budaya, Pemerintah Kota Bekasi juga memanfaatkan momen ini untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Sebanyak 17 layanan publik terpadu dihadirkan dalam bentuk roadshow di sekitar lokasi acara. Selain itu, ratusan pelaku UMKM turut ambil bagian dengan membuka stan, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga sekitar.
Siti Khodijah, salah satu peserta festival, mengaku bangga bisa terus berpartisipasi setiap tahunnya. Baginya, festival ini adalah wadah pembuktian bahwa inovasi dapat berjalan beriringan dengan tradisi. “Setiap tahun kami terus berinovasi. Ini bukan hanya lomba, tapi upaya agar budaya tetap hidup,” katanya penuh semangat. Festival ini menjadi bukti kuat bahwa dukungan nyata dan pembinaan berkelanjutan dapat menjaga marwah budaya lokal tetap eksis di tengah perkembangan zaman.


